Khutbah Jumat: Berhenti Mengeluh
Berhenti Mengeluh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمِهِ، وَفَتَحَ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِهِ، وَدَعَانَا إِلَى الصَّبْرِ وَالشُّكْرِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam keadaan lapang maupun sempit.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kehidupan di dunia ini tidak akan pernah lepas dari ujian dan masalah. Terkadang kita dihadapkan pada pekerjaan yang berat, cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi yang sulit, hingga gesekan dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, seringkali lisan ini dengan mudahnya terpeleset untuk mengeluh.
Padahal, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan menguras energi, mengeruhkan hati, dan yang paling berbahaya: mengikis rasa syukur kita kepada Allah SWT.
Allah SWT sebenarnya telah mengingatkan kita tentang tabiat asli manusia ini dalam Al-Quran Surah Al-Ma’arij ayat 19-20:
إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah.”
Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya, manusia memang mudah berkeluh kesah. Namun, sebagai seorang mukmin yang beriman, kita diminta untuk mengendalikan tabiat tersebut. Islam mengajarkan kita sebuah seni dalam menghadapi hidup, yaitu seni bersyukur saat lapang, dan bersabar saat sempit.
Rasulullah SAW telah memberikan pujian yang luar biasa kepada orang-orang beriman yang berhasil menekan hawa nafsu untuk tidak mengeluh. Beliau bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bagi seorang mukmin, tidak ada ruang yang tersisa untuk banyak mengeluh. Karena rumus hidupnya hanya dua: syukur atau sabar. Kedua hal ini sama-sama mendatangkan pahala.
Mari kita renungkan sebuah kisah dan pernyataan luar biasa dari seorang Tabi’in yang mulia, yakni Syuraih Al-Qadhi. Beliau adalah seorang hakim yang sangat terkenal akan keadilan dan kebijaksanaannya. Syuraih memiliki cara pandang yang sangat indah agar lisan dan hatinya tidak mudah mengeluh ketika diuji.
Beliau berkata: “Sesungguhnya jika aku tertimpa suatu musibah (keburukan), maka aku memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) sebanyak empat kali: Pertama, aku memuji Allah karena musibah itu tidak lebih besar dari yang sedang terjadi. Kedua, aku memuji Allah karena Dia memberiku kesabaran dalam menghadapinya. Ketiga, aku memuji Allah karena Dia memberiku taufik untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Dan keempat, aku memuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku.”
Lihatlah bagaimana generasi terdahulu memandang sebuah masalah. Di saat kita mungkin sibuk mencari siapa yang salah, sibuk memperbesar masalah yang kecil, dan sibuk meratapi nasib; Syuraih Al-Qadhi justru menemukan empat alasan untuk tetap bersyukur dengan mengucapkan “Alhamdulillah” di tengah musibah yang menimpanya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mari kita kurangi kebiasaan mengeluh. Hentikan mengeluhkan cuaca yang panas, karena itu adalah kehendak Allah yang mengatur alam semesta. Hentikan mengeluhkan makanan yang kurang enak, karena di luar sana banyak saudara kita yang tidak bisa makan.
Jika memang dada ini terasa sesak dan butuh tempat bersandar, maka mengeluhlah, tapi hanya kepada Allah SWT.
Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Yaqub ‘alaihissalam:
اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ
Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.
Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan raga yang senantiasa bersabar. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا, فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
~ الخطبة الثانية ~
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. امَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ, وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى, يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرَسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ, اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى, وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ, وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ, وَاْلوَبَاءَ, وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ, وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ, مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً, وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً, يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
