SANGATTA – Santri Kutim Bersholawat IV yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutai Timur di Polder Ilham Maulana, Sangatta, Jumat malam (30/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat syiar Islam sekaligus melestarikan tradisi keagamaan di tengah masyarakat.
Kegiatan yang dirangkai dengan parade bedug dan 5.000 rebana tersebut dihadiri ribuan jamaah, santri, ulama, pengurus NU, serta berbagai majelis taklim. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman turut hadir dalam kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026 itu.
Ketua PCNU Kutai Timur, Dr. Sismanto, M.Pd., yang juga owner Banyumili Travel dalam sambutannya mengenang perjalanan Santri Kutim Bersholawat yang kini memasuki penyelenggaraan keempat. Ia mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan parade rebana sebenarnya telah disampaikan sejak dua tahun lalu.
Saat itu, panitia masih mencari bentuk dan konsep yang tepat untuk melibatkan kelompok-kelompok rebana secara bersama-sama. Gagasan tersebut kemudian berkembang hingga akhirnya dapat diwujudkan dalam parade rebana berskala besar yang tahun ini semakin semarak dengan tambahan parade bedug.
Menurut Sismanto, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah gagasan membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja sama sebelum akhirnya dapat diwujudkan. Ia berharap Santri Kutim Bersholawat terus berkembang menjadi ruang kebersamaan sekaligus sarana memperkenalkan tradisi keagamaan kepada generasi muda.
Dalam kesempatan itu, Sismanto juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga identitas Nahdlatul Ulama melalui salah satu bait Alfiyah Ibnu Malik:
لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرٍّ نَا صَلَحْ
كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ
Ia menjelaskan bahwa dalam ilmu nahwu, dhamir nā tetap memiliki bentuk yang sama, baik ketika berkedudukan rafa‘, nashab, maupun jar. Kaidah tata bahasa Arab tersebut kemudian dimaknai sebagai pelajaran kehidupan.
“Ketika berada di atas, jangan sombong. Ketika berada di tengah, tetap istiqamah. Dan ketika berada di bawah, jangan kehilangan jati diri,” ungkap Sismanto.
Filosofi tersebut, menurutnya, juga relevan bagi warga Nahdlatul Ulama. Di mana pun berada dan dalam kedudukan apa pun, warga NU perlu menjaga identitas, memperkenalkan simbol organisasi, serta melestarikan amaliah yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Ia mengajak warga NU untuk terus merawat tradisi tahlilan, yasinan, istighotsah, dan sholawatan sebagai warisan keagamaan yang memperkuat hubungan sosial dan spiritual masyarakat.
Sismanto juga mengutip kaidah nahwu Inna wa akhawātuhā tanṣibul-isma wa tarfa‘ul-khabar. Dari ungkapan tarfa‘ul-khabar, ia mengambil pesan agar warga NU senantiasa mengangkat dan menyebarkan kabar baik tentang organisasi melalui karya, keteladanan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi keterlibatan para santri, ulama, majelis taklim, dan masyarakat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Hari ini kita menguatkan Kutai Timur menjadi daerah yang tenteram, aman serta selalu berada dalam keridaan Allah SWT,” tutur Ardiansyah, sebagaimana diberitakan melalui laman resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
Bupati juga mengibaratkan kebersamaan dalam membangun daerah seperti permainan rebana yang membutuhkan keselarasan irama. Setiap unsur memiliki peran masing-masing, tetapi harus bergerak harmonis untuk menghasilkan sesuatu yang baik.
Melalui Santri Kutim Bersholawat IV, PCNU Kutai Timur berharap semangat bersholawat, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tradisi keagamaan terus tumbuh serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tinggalkan Balasan