Khutbah Jumat: Bersyukur dengan Ketaatan
Bersyukur dengan Ketaatan
اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan yang bukan hanya terdengar dalam lisan, tetapi juga nampak dalam perbuatan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Setiap hari kita menerima begitu banyak nikmat dari Allah. Nikmat umur, kesehatan, keluarga, rezeki, pekerjaan, bahkan nikmat bisa datang ke masjid dan bersujud kepada Allah. Karena itu, lisan kita tidak pernah lepas dari ucapan Alhamdulillah. Tetapi pertanyaannya, apakah syukur itu cukup dengan ucapan?
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Para ulama menjelaskan bahwa syukur bukan hanya pekerjaan lisan.
Syukur adalah ketika hati mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah, lisan memuji-Nya, dan anggota badan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
Jadi, kalau Allah memberi kita kesehatan, syukurnya adalah menggunakan kesehatan itu untuk beribadah. Kalau diberi harta, syukurnya adalah menggunakan harta dengan benar dan berbagi kepada yang membutuhkan. Kalau diberi ilmu, syukurnya adalah mengamalkannya. Kalau diberi jabatan syukurnya adalah menjalankannya penuh amanah.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin ketika menjelaskan hakikat syukur, mengutip perkataan Imam al-Junaid:
الشُّكْرُ أَلَّا تَرَى نَفْسَكَ أَهْلًا لِلنِّعْمَةِ
“Syukur adalah engkau tidak melihat dirimu sebagai orang yang pantas menerima nikmat.”
Kalimat ini sangat dalam. Orang yang benar-benar bersyukur tidak merasa, “Saya mendapatkan ini karena saya hebat.” Ia menyadari bahwa di balik usaha, kemampuan, kesehatan, dan kesempatan yang dimilikinya, ada Allah yang memberikan semuanya.
Karena itu, semakin banyak nikmat yang diterima, seharusnya semakin banyak pula ketaatan. Jangan sampai kita meminta rezeki yang luas, tetapi ketika rezeki datang kita lupa kepada Allah. Jangan hanya meminta kesehatan, tetapi ketika sehat kita malas beribadah. Jangan hanya meminta keluarga yang bahagia, tetapi kita sendiri tidak berusaha menjadikan keluarga dekat dengan Allah.
Rasulullah Saw telah memberikan contoh. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau begitu bersungguh-sungguh beribadah, beliau menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Saw sudah dijamin ampunan Allah, tetapi beliau tetap memperbanyak ibadah. Artinya, syukur bukan alasan untuk berhenti berbuat, tetapi alasan untuk semakin taat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kadang kita hanya mengingat nikmat yang besar, padahal bisa datang ke masjid juga nikmat. Bisa bersujud juga nikmat. Masih diberi kesempatan bertaubat juga nikmat. Maka jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu yang telah Allah berikan.
Cukuplah kita bertanya kepada diri sendiri: nikmat yang selama ini kita terima, sudahkah membawa kita semakin dekat kepada Allah?
Maka mulai hari ini, mari kita buktikan syukur dengan ketaatan. Lisan mengucapkan Alhamdulillah, hati mengakui semuanya dari Allah, dan anggota badan kita gunakan untuk melakukan kebaikan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang benar-benar bersyukur; bukan hanya pandai mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga pandai menggunakan nikmat Allah untuk beribadah kepada-Nya.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا, فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
~ الخطبة الثانية ~
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. امَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ, وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى, يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرَسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ, اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى, وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ, وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَالطَّائِعِينَ لِأَمْرِكَ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَصِحَّتِنَا، وَاجْعَلْ نِعَمَكَ عَوْنًا لَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَارْزُقْهُمُ الْعَدْلَ وَالْحِكْمَةَ، وَاحْفَظْ شَعْبَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَصَائِبِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَارْحَمْنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
