“Makanan Halal, Kunci Bersihnya Hati dan Terkabulnya Doa”
“Makanan Halal, Kunci Bersihnya Hati dan Terkabulnya Doa”
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْحَلَالِ وَنَهَانَا عَنِ الْحَرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْعَلَّامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ الْأَنَامِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْـتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa takwa tidak akan sempurna kecuali dengan menjaga apa yang kita konsumsi, apa yang kita makan, dan dari mana sumber rezeki kita berasal.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam Wasiyatul Musthofa, Rasulullah Saw berwasiat kepada Sayyidina Ali:
يَا عَلِيُّ: مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ صَفَا دِينُهُ، وَرَقَّ قَلْبُهُ، وَلَمْ يَكُنْ لِدُعَائِهِ حِجَابٌ
“Wahai Ali, barang siapa memakan yang halal, maka bersih agamanya, lembut hatinya, dan tidak ada penghalang bagi doanya.”
Wasiat ini menunjukkan bahwa makanan halal bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi juga menentukan kualitas iman dan kedekatan seorang hamba kepada Allah Swt.
Setidaknya ada tiga keutamaan dari makanan halal:
Pertama, makanan halal akan membersihkan agama seseorang.
Halal di sini bukan hanya zatnya, tetapi juga cara memperolehnya. Rezeki yang didapat dengan cara curang, riba, penipuan, atau kezaliman, meskipun tampak banyak, sesungguhnya mengotori agama dan merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Sebagaimana Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kedua, makanan halal akan melembutkan hati.
Hati yang lembut adalah hati yang mudah menerima nasihat, mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, dan mudah tunduk kepada kebenaran. Sebaliknya, makanan yang haram atau syubhat akan mengeraskan hati, menjauhkan dari dzikir, dan menutup pintu hidayah.
Rasulullah Saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan kita anggap remeh apa yang masuk ke dalam perut kita, karena dari situlah terbentuk hati kita, apakah ia menjadi lembut dan dekat dengan Allah, atau keras dan jauh dari-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ketiga, makanan halal adalah kunci terkabulnya doa.
Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits ini memberi pelajaran penting bahwa dosa menjadi penghalang turunnya kebaikan dari Allah, termasuk rezeki, keberkahan, dan juga terkabulnya doa.
Salah satu dosa besar yang sering diremehkan adalah memakan yang haram atau tidak jelas (syubhat).
Jika kita merasa doa kita lama terkabul, jangan hanya memperbaiki cara berdoa, tetapi periksa juga apa yang kita makan, karena bisa jadi bukan langit yang tertutup, tetapi jalan kita sendiri yang terhalang.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Para ulama salaf sangat berhati-hati dalam urusan makanan. Mereka rela menahan lapar daripada memakan sesuatu yang meragukan. Karena mereka sadar bahwa satu suap makanan haram dapat menghalangi doa dan merusak hati.
بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا, فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
~ الخطبة الثانية ~
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الََّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. امَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ, وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى, يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرَسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ, اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى, وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ, وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ, لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ, اَلْاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ, وَاْلوَبَاءَ, وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ, وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ, مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً, وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً, يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ طَيِّبْ مَكَاسِبَنَا، وَبَارِكْ فِي أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ مَا نَأْكُلُ حَلَالًا طَيِّبًا، وَلَا تَجْعَلْ فِي بُطُونِنَا إِلَّا الْحَلَالَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَدُعَاءً مُسْتَجَابًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا حَلَالًا طَيِّبًا. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ, وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ, وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ, وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
