BENGALON – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, berlangsung meriah melalui lomba rebana Al-Banjari dan Bengalon Bersholawat yang digelar di halaman Kantor Kecamatan Bengalon, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bengalon ini menjadi momentum memperkuat syiar Islam sekaligus melestarikan tradisi keagamaan di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan lomba rebana Al-Banjari tingkat Kecamatan Bengalon sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WITA. Setelah perlombaan berakhir, acara dilanjutkan dengan Sholawat Akbar yang mempertemukan warga Nahdlatul Ulama, kelompok rebana, dan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Ketua MWCNU Bengalon, Alfin Gunawan, M.Pd., mengungkapkan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman selama tiga tahun mengikuti pelaksanaan peringatan Hari Santri yang diselenggarakan PCNU Kutai Timur.
Selama kurun waktu tersebut, pihaknya mengamati dan mempelajari penyelenggaraan kegiatan di tingkat cabang hingga akhirnya memberanikan diri menggelar kegiatan serupa di Kecamatan Bengalon.
“Tiga tahun kami belajar dari pelaksanaan Hari Santri di PCNU Kutai Timur. Karena itu, tahun ini kami memberanikan diri menyelenggarakannya untuk pertama kali,” ungkap Alfin.
Menurutnya, pelaksanaan perdana ini menjadi langkah awal bagi MWCNU Bengalon untuk mengembangkan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat secara lebih luas, khususnya melalui seni rebana dan tradisi bersholawat.
Sementara itu, Ketua PCNU Kutai Timur, Dr. Sismanto, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga jati diri dan kebanggaan sebagai warga Nahdlatul Ulama. Pesan tersebut disampaikan melalui salah satu bait Alfiyah Ibnu Malik, kitab yang akrab dengan tradisi pembelajaran di pesantren.
لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرٍّ نَا صَلَحْ
كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ
Sismanto menjelaskan bahwa dalam ilmu nahwu, dhamir nā tetap memiliki bentuk yang sama ketika berada pada kedudukan rafa‘, nashab, maupun jar. Dari kaidah tersebut, ia mengambil hikmah tentang pentingnya menjaga sikap dan prinsip hidup dalam berbagai keadaan.
“Ketika berada di atas, jangan sombong. Ketika berada di tengah, tetap istiqamah. Dan ketika berada di bawah, jangan kehilangan jati diri,” pesannya.
Menurut Sismanto, filosofi tersebut juga menjadi pengingat bagi warga NU agar tetap bangga dengan identitas dan tradisi ke-NU-an, di mana pun berada dan dalam kedudukan apa pun.
Ia mengajak warga NU untuk mengenalkan simbol-simbol organisasi, mengibarkan bendera NU, serta terus melestarikan amaliah yang telah mengakar di masyarakat, seperti tahlilan, yasinan, istighotsah, dan sholawatan.
Dalam sambutannya, Sismanto juga mengutip kaidah nahwu Inna wa akhawātuhā tanṣibul-isma wa tarfa‘ul-khabar. Ungkapan tarfa‘ul-khabar dimaknainya sebagai ajakan untuk terus mengangkat kabar baik tentang Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, kabar baik tentang NU tidak cukup disampaikan melalui cerita, tetapi juga perlu dibuktikan melalui karya nyata, keteladanan, dan pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penyelenggaraan Bengalon Bersholawat perdana ini sekaligus memperlihatkan tumbuhnya semangat kaderisasi dan kemandirian organisasi di tingkat kecamatan. Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan PCNU Kutai Timur kini mulai dikembangkan oleh MWCNU Bengalon melalui kegiatan yang disesuaikan dengan potensi dan partisipasi masyarakat setempat.
Melalui lomba rebana Al-Banjari dan Sholawat Akbar, peringatan Hari Santri Nasional di Bengalon diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan generasi muda, penguatan tradisi pesantren, dan pelestarian amaliah Ahlussunnah wal Jamaah.
Tinggalkan Balasan