Regulator Batin
Syaikh Nawawi Banten dalam nashoihul Ibad, menempatkan hati sebagai pusat pengendali seluruh tindakan manusia. Pada maqolah ke-2 bab tsanai, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa hidupnya amal tidak ditentukan oleh kecanggihan metode, tetapi oleh siapa yang membentuk batin seseorang.
قال النبي ﷺ:
عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء، فإن الله تعالى يحيي القلب الميت بنور الحكمة، كما يحيي الأرض الميتة بماء المطر
Artinya:
“Wajib atas kalian duduk bersama para ulama dan mendengarkan perkataan para hukama, karena Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”
Maqolah ini memberi pesan mendasar kerusakan amal sering tidak berawal dari kesalahan teknis, tetapi dari batin yang kehilangan cahaya hikmah. Dalam dunia usaha, bisnis bisa terlihat rapi secara administratif, legal secara hukum, namun rapuh secara moral. Ketika batin tidak lagi diikat oleh iman dan hikmah, keputusan ekonomi mudah tergelincir menjadi sekadar kalkulasi untung-rugi tanpa pertimbangan nilai.
Prinsip ini menemukan relevansinya dalam temuan lapangan penelitian saya terhadap pengusaha Muslim bisnis kuliner di Kutai Timur. Dewi Yuliana, pemilik Lubna Cake yang telah beroperasi lebih dari 12 tahun, menyampaikan dalam wawancara bahwa setiap keputusan usaha selalu ia kaitkan dengan ketenangan batin. Ia mengakui bahwa saat memaksakan ekspansi tanpa kesiapan mental dan spiritual, konflik internal dan kelelahan emosional justru muncul. Baginya, keberhasilan usaha bukan semata pertumbuhan omzet, tetapi rasa tenteram ketika menutup hari kerja.
Syaikh Nawawi kemudian menegaskan pentingnya lingkungan batin dengan menukil sebuah riwayat Imam Thobroni dari Abu Hanifah :
وفي رواية الطبراني عن أبي حنيفة:
جالسوا الكبراء، وسالوا العلماء، وخالطوا الحكماء
Artinya:
“Bergaullah dengan para pembesar, bertanyalah kepada para ulama, dan bergaullah dengan orang-orang bijak.”
Lingkar pergaulan, menurut maqolah ini, adalah pintu masuk cahaya atau kegelapan batin. Hal ini sejalan dengan temuan lapangan saya. Edy Pramono, pengelola Resto Edy Blangkon yang telah menekuni usaha kuliner selama 15 tahun, menyampaikan bahwa tekanan terbesar dalam bisnis bukan berasal dari pesaing, melainkan dari ambisi diri sendiri. Ia mengaku pernah berada pada fase mengejar keuntungan secara agresif, namun justru kehilangan keharmonisan dengan karyawan dan keluarga. Kesadaran itu menjadi titik balik baginya untuk menjadikan iman sebagai regulator batin dalam mengelola usaha.
Syaikh Nawawi menjelaskan lebih jauh bahwa ulama dan manusia berilmu terbagi dalam tiga lapisan:
فإن العلماء ثلاثة أقسام
العلماء بأحكام الله وهم أصحاب الفتوى
والعلماء بذات الله فقط وهم الحكماء
والعلماء بالقسمين وهم الكبراء
Artinya:
“Para ulama terbagi menjadi tiga golongan: ulama yang mengetahui hukum-hukum Allah, mereka adalah ahli fatwa; ulama yang mengenal Allah secara makrifat, mereka adalah para hukama; dan ulama yang menguasai keduanya, mereka itulah para tokoh besar.”
Dalam konteks pengusaha Muslim, maqolah ini menegaskan bahwa pengetahuan bisnis tanpa kebijaksanaan batin hanya melahirkan kepintaran yang kering. Temuan lapangan menunjukkan bahwa bentuk kezaliman dalam bisnis sering hadir secara halus. Agus Kristanto, pemilik usaha Soto Kwali, mengungkapkan bahwa ia belajar menahan diri dalam mengambil keputusan setelah menyadari bahwa ketergesaan sering lahir dari kegelisahan batin, bukan kebutuhan riil usaha. Tekanan kerja berlebihan, keputusan sepihak, dan pengabaian kesejahteraan karyawan sering berakar dari batin yang tidak tenang.
Peringatan paling keras dalam maqolah ke-2 disampaikan Nabi SAW:
سيأتي زمان على أمتي يفرون من العلماء والفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بلايا
يرفع البركة من كسبهم
ويسلط عليهم سلطانًا ظالمًا
ويخرجون من الدنيا بغير إيمان
Artinya:
“Akan datang suatu zaman pada umatku, mereka lari dari para ulama dan fuqaha. Maka Allah menimpakan kepada mereka tiga bencana: dicabut keberkahan dari penghasilan mereka, dikuasakan atas mereka pemimpin yang zalim, dan mereka keluar dari dunia tanpa iman.”
Data lapangan dalam penelitian saya menunjukkan bahwa hilangnya keberkahan usaha tidak selalu ditandai kerugian finansial, tetapi hilangnya ketenangan, rapuhnya relasi kerja, dan meningkatnya konflik internal. Trisna Sriwulaningsih, pemilik Tahu Gila dengan tujuh cabang waralaba, menyampaikan bahwa tantangan terberat justru menjaga niat agar tidak berubah menjadi keserakahan. Ia melakukan evaluasi batin secara rutin, bukan hanya evaluasi keuangan, agar skala usaha tidak menggerus nilai.
Dalam kerangka tasawuf Imam al-Ghazali, hati yang tidak dijaga akan mengubah kerja halal menjadi aktivitas yang melelahkan dan hampa makna. Temuan penelitian saya memperlihatkan bahwa pengusaha yang menjadikan iman sebagai pengendali batin cenderung lebih stabil menghadapi fluktuasi ekonomi. Yasmin, pemilik Jasmine Cake dengan pengalaman usaha 26 tahun, menyatakan bahwa ketenangan batin membantunya bertahan dalam krisis tanpa mengambil jalan pintas yang merusak nilai usaha.
Maqolah ke-2 nashoihul Ibad tersebut bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi arsitektur etika bisnis. Ia mengajarkan bahwa usaha yang besar tanpa regulator batin hanya akan melahirkan kegelisahan yang terselubung. Pertanyaannya kini bukan sekadar seberapa cerdas strategi bisnis kita, tetapi siapa yang membentuk batin kita setiap hari. Apakah keputusan usaha lahir dari hati yang hidup oleh hikmah, atau dari kegelisahan yang dibungkus rasionalitas bisnis.
Apakah bisnis yang kita jalani sedang menumbuhkan ketenangan batin, atau perlahan mengikisnya tanpa kita sadari.
_______
Dr. Sismanto
Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur
